5 Karakter Orang yang Haus Validasi dari Media Sosial, Kenali dari Kebiasaan Ini

4 hours ago 3

Fimela.com, Jakarta - Media sosial dapat menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan orang lain, berbagi informasi, maupun mendapatkan dukungan. Namun, bagi sebagian orang, media sosial juga bisa menjadi tempat untuk mencari kepastian dan validasi dari orang lain agar merasa lebih baik tentang dirinya sendiri.

Kebiasaan tersebut sebenarnya tidak selalu menjadi masalah. Mengutip Psychology Today, mencari reassurance atau kepastian sesekali merupakan hal yang wajar. Persoalan dapat muncul ketika seseorang semakin sering melakukannya, menjadi bergantung pada respons orang lain, dan menggunakan likes atau komentar di media sosial sebagai cara utama untuk meredakan perasaan tidak nyaman dalam dirinya.

Lebih lanjut, berikut informasi mengenai karakter orang yang haus validasi dari media sosial, dihimpun Fimela.com dari laman Psychology Today, Jumat (11/9).

1. Sering Mengunggah Sesuatu Saat Sedang Merasa Tidak Percaya Diri

Salah satu contoh yang dibahas adalah seseorang yang memiliki kekhawatiran terhadap citra tubuhnya. Ketika sedang merasa tidak percaya diri, ia kerap mengunggah foto yang memperlihatkan tubuhnya di Instagram.

Unggahan tersebut kemudian mendapatkan banyak likes dan komentar yang memuji penampilannya. Respons positif itu membuatnya merasa lebih baik dan membantu meningkatkan harga dirinya untuk sementara. Ia bahkan bisa mulai berpikir bahwa mungkin dirinya memang terlihat menarik.

Pola ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat digunakan sebagai sumber reassurance atau rasa yakin dari orang lain. Persoalannya bukan sekadar pada kebiasaan mengunggah foto, melainkan dorongan di balik unggahan tersebut, terutama ketika seseorang membutuhkannya untuk meyakinkan diri bahwa dirinya terlihat baik.

2. Mencari Penghiburan dengan Membagikan Masalah Pribadi

Contoh lainnya adalah seseorang yang sering merasa kesepian dan berpikir bahwa orang lain tidak peduli kepadanya. Alih-alih menemui teman atau keluarga, ia justru rutin menggunakan media sosial untuk membagikan penderitaan mental yang sedang dialaminya secara berlebihan.

Ketika orang lain memberikan komentar positif, mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang baik, atau menyemangatinya agar tetap bertahan, ia merasa lebih baik. Respons tersebut menjadi bentuk reassurance yang untuk sementara dapat meredakan perasaan negatifnya.

Dengan demikian, yang dicari bukan hanya kesempatan untuk berbagi cerita, tetapi juga respons dari orang lain yang dapat membuat dirinya merasa lebih diterima dan dihargai.

3. Menampilkan Kehidupan yang Terlihat Bahagia untuk Mendapatkan Respons Positif

Contoh berikutnya menggambarkan seseorang yang sedang mengalami banyak konflik dengan pasangan dan anak-anaknya. Di tengah persoalan tersebut, ia justru sering membuat unggahan Facebook yang memperlihatkan keluarganya terlihat bahagia.

Setiap kali mendapatkan komentar dan likes, ia merasakan kelegaan sementara terhadap situasi yang sebenarnya sedang bermasalah di rumah. Respons positif dari orang lain memberikan rasa yakin dan nyaman untuk sementara waktu.

Dalam kondisi seperti ini, media sosial menjadi tempat untuk mendapatkan perasaan positif yang sulit diperoleh dari keadaan sebenarnya. Namun, efeknya tidak berlangsung lama karena perasaan tersebut berasal dari respons orang lain, bukan dari penyelesaian masalah yang sedang dihadapi.

4. Sulit Merasa Baik Tanpa Likes dan Komentar

Mencari reassurance dapat menjadi masalah ketika dilakukan semakin sering dan seseorang mulai bergantung padanya. Likes dan komentar memang dapat membuat seseorang merasa lebih baik, tetapi efek positif tersebut biasanya hanya berlangsung sementara.

Ketika perasaan tidak nyaman muncul lagi, orang tersebut dapat terdorong untuk kembali membuat unggahan demi mendapatkan respons serupa. Akhirnya, terbentuk sebuah siklus: merasa tidak baik, mencari validasi melalui media sosial, merasa lebih baik untuk sementara, kemudian kembali mencari validasi ketika perasaan negatif muncul lagi.

Dalam pola seperti ini, seseorang tidak benar-benar belajar menghadapi atau mengatasi persoalan yang mendasari kebutuhannya terhadap validasi. Upaya terus-menerus untuk mendapatkan respons positif dapat mempertahankan masalah tersebut dan tidak menyelesaikan akar persoalannya. Bahkan, suasana hati dapat menjadi semakin buruk ketika unggahan yang dibuat tidak mendapatkan banyak tanggapan dari orang lain.

5. Terlalu Bergantung pada Penilaian Orang Lain

Pada dasarnya, ketiga contoh tersebut memiliki pola yang serupa. Seseorang menggunakan respons orang lain untuk membantu dirinya merasa lebih baik mengenai dirinya sendiri atau situasi yang sedang dihadapi.

Validasi dari luar memang dapat memberikan dorongan positif dalam waktu singkat. Namun, ketika seseorang semakin bergantung pada likes, komentar, atau tanggapan orang lain untuk merasa lebih baik, media sosial dapat menjadi bagian dari siklus pencarian reassurance yang sulit dihentikan.

Karena itu, istilah “haus validasi” dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai kecenderungan mencari reassurance dan validasi dari luar secara berlebihan, bukan sebagai diagnosis atau label kepribadian tertentu.

Cara Mengurangi Siklus Mencari Validasi dari Media Sosial

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah lebih sadar terhadap alasan di balik setiap unggahan. Sebelum memposting sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri, “Mengapa saya mengunggah ini?”

Pertimbangkan apakah unggahan tersebut dibuat karena memang ingin berbagi, atau karena sedang membutuhkan persetujuan dan reassurance dari teman maupun followers. Pikirkan pula bagaimana perasaan jika unggahan itu tidak mendapatkan jumlah likes atau komentar yang diharapkan. Jika kemungkinan tersebut menimbulkan tekanan yang besar, pertimbangkan kembali apakah unggahan tersebut perlu dibuat.

Selain itu, penting untuk menangani persoalan yang sebenarnya, bukan hanya mencari kelegaan melalui media sosial. Jika unggahan orang lain memicu kekhawatiran terhadap citra tubuh, misalnya, penggunaan aplikasi dapat dihentikan, akun yang memicu kekhawatiran dapat di-unfollow, atau waktu menggunakan aplikasi tersebut dibatasi.

Jika sedang merasa kesepian, seseorang dapat menghubungi teman atau keluarga. Ia juga dapat mencari cara untuk bertemu lebih banyak orang atau membangun hubungan yang lebih bermakna. Sementara jika menghadapi masalah dalam hubungan, membicarakannya dengan pasangan atau mempertimbangkan bantuan dari terapis pasangan dapat menjadi pilihan.

Belajar Memberikan Validasi kepada Diri Sendiri

Daripada terus mengandalkan media sosial untuk mendapatkan validasi, seseorang juga dapat mencari cara untuk memberikan validasi kepada dirinya sendiri. Salah satu langkah yang dapat dicoba adalah mempelajari self-compassion atau sikap penuh kasih terhadap diri sendiri.

Praktik mindfulness juga dapat menjadi titik awal untuk membantu menghadapi pola pikir yang merusak. Selain itu, membuat jurnal rasa syukur berisi hal-hal yang disyukuri dalam kehidupan dapat menjadi cara lain untuk mengembangkan perhatian terhadap hal-hal positif yang dimiliki.

Jika seseorang merasa kesulitan mengelola persoalannya tanpa terus mencari validasi dari orang lain di media sosial, bekerja sama dengan terapis juga dapat membantu. Tujuannya adalah belajar mengelola masalah secara lebih efektif, bukan terus mengandalkan respons dari orang lain sebagai sumber rasa nyaman.

Tidak Semua Penggunaan Media Sosial Berdampak Buruk

Tidak semua interaksi di media sosial bersifat merugikan. Media sosial dapat menjadi cara yang baik untuk tetap terhubung dengan orang lain dan menjadi sarana yang tepat untuk memperoleh dukungan.

Media sosial juga dapat digunakan untuk mendapatkan informasi atau bahkan membangun bisnis kecil. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata pada penggunaan media sosial, tetapi juga pada motivasi seseorang ketika menggunakannya.

Menyadari alasan sebelum mengunggah sesuatu dapat membantu seseorang membedakan antara berbagi secara sehat dan mencari reassurance secara berlebihan. Dengan memahami dorongan tersebut, penggunaan media sosial dapat menjadi lebih sadar dan tidak semata-mata bergantung pada penilaian orang lain.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Karakter Orang yang Haus Validasi dari Media Sosial

1. Apa yang dimaksud dengan orang yang haus validasi dari media sosial?

Orang yang haus validasi dari media sosial adalah seseorang yang cenderung mencari reassurance atau penguatan dari orang lain secara berlebihan melalui likes, komentar, atau tanggapan di media sosial untuk merasa lebih baik tentang dirinya atau situasi yang dihadapinya.

2. Apakah mencari validasi dari media sosial selalu buruk?

Tidak. Mencari reassurance sesekali merupakan hal yang wajar. Media sosial juga dapat digunakan untuk tetap terhubung dengan orang lain, mendapatkan dukungan, berbagi informasi, hingga membangun bisnis. Persoalan dapat muncul ketika seseorang semakin sering dan bergantung pada respons orang lain untuk merasa lebih baik.

3. Apa tanda seseorang terlalu bergantung pada validasi media sosial?

Salah satunya adalah merasa terdorong untuk kembali mengunggah sesuatu ketika sedang merasa tidak nyaman demi mendapatkan likes atau komentar. Perasaan lega yang muncul setelah memperoleh respons positif juga biasanya hanya sementara sehingga orang tersebut kembali mencari validasi ketika perasaan negatif muncul.

4. Mengapa likes dan komentar bisa membuat seseorang merasa lebih baik?

Likes dan komentar positif dapat memberikan reassurance atau penguatan dari orang lain. Respons tersebut dapat meningkatkan perasaan positif atau harga diri untuk sementara, tetapi efeknya cenderung tidak bertahan lama ketika sumbernya berasal dari luar diri.

5. Bagaimana cara mengurangi kebiasaan mencari validasi dari media sosial?

Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan alasan di balik unggahan tersebut dan pikirkan bagaimana perasaan jika tidak mendapatkan likes atau komentar seperti yang diharapkan. Selain itu, persoalan yang mendasari kebutuhan tersebut dapat dihadapi secara langsung, sambil belajar memberikan validasi kepada diri sendiri melalui self-compassion, mindfulness, jurnal rasa syukur, atau bantuan terapis jika diperlukan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|