7 Alasan Seseorang Bisa Tiba-Tiba Ingin Membereskan Rumah saat Banyak Pikiran, Ini Penjelasan Psikologinya

7 hours ago 1

Salah satu alasan seseorang bisa tiba-tiba ingin membereskan rumah saat banyak pikiran adalah munculnya kebutuhan untuk merasakan kembali kendali atas sesuatu yang dapat dilakukan secara langsung.

Ketika menghadapi masalah pekerjaan, konflik hubungan, tekanan finansial, atau ketidakpastian mengenai masa depan, seseorang tidak selalu bisa segera mengubah sumber masalahnya. Persoalan tersebut mungkin membutuhkan waktu, keputusan orang lain, atau proses panjang untuk diselesaikan.

Sebaliknya, merapikan rumah memberikan sasaran yang lebih konkret. Meja yang penuh barang bisa ditata dalam beberapa menit. Pakaian yang menumpuk dapat dilipat. Barang-barang yang berserakan dapat dikembalikan ke tempatnya.

Penjelasan ini sejalan dengan Compensatory Control Theory yang dikembangkan Aaron C. Kay dan kolega. Teori tersebut menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa kontrol pribadinya terancam, ia dapat mencari cara lain untuk memulihkan keyakinan bahwa kehidupannya tetap memiliki keteraturan dan dapat diprediksi.

Dalam konteks sehari-hari, membersihkan rumah menjadi aktivitas yang relatif mudah dikendalikan. Seseorang mungkin tidak dapat langsung menyelesaikan persoalan pekerjaan, tetapi ia dapat memutuskan bahwa dapurnya akan kembali rapi dalam waktu setengah jam.

Hasilnya pun terlihat secara langsung. Kondisi sebelum dan sesudah membersihkan memberikan tanda konkret bahwa sebuah tindakan telah menghasilkan perubahan.

2. Kekacauan yang terlihat dapat terasa seperti pekerjaan yang belum selesai

Rumah juga menjadi lingkungan yang terus-menerus dilihat dan digunakan. Karena itu, kondisi ruangan dapat berhubungan dengan bagaimana seseorang mengalami kesehariannya.

Penelitian Darby Saxbe dan Rena Repetti yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin pada 2010, berjudul No Place Like Home: Home Tours Correlate With Daily Patterns of Mood and Cortisol, mengamati bagaimana perempuan menggambarkan rumah mereka serta kaitannya dengan pola kortisol sepanjang hari.

Dalam penelitian tersebut, partisipan yang menggambarkan rumahnya menggunakan kata-kata seperti "berantakan" atau "belum selesai" menunjukkan pola kortisol harian yang lebih datar dibandingkan mereka yang menggambarkan rumahnya sebagai tempat yang lebih tenang dan memulihkan.

Temuan ini tidak berarti bahwa setiap rumah berantakan otomatis menyebabkan stres atau bahwa setiap orang yang stres pasti membutuhkan rumah yang sangat rapi. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa cara seseorang memandang lingkungan rumahnya dapat berkaitan dengan pengalaman psikologis sehari-hari.

Ketika pikiran sudah dipenuhi banyak persoalan, tumpukan pakaian, piring kotor, meja penuh barang, atau ruangan yang tidak tertata mungkin terasa seperti tambahan daftar tugas yang belum selesai.

Karena itu, dorongan untuk membereskannya dapat muncul sebagai upaya membuat lingkungan terasa lebih sederhana dan tidak terlalu membebani perhatian.

3. Membersihkan memberikan hasil yang bisa dilihat secara langsung

Ada perbedaan besar antara menyelesaikan pekerjaan rumah dan menyelesaikan masalah kehidupan.

Masalah pekerjaan mungkin membutuhkan rapat. Konflik dengan pasangan membutuhkan komunikasi. Persoalan keuangan membutuhkan perencanaan. Sementara itu, menyapu lantai hanya membutuhkan sapu, waktu, dan tenaga.

Perbedaan tersebut dapat membuat aktivitas bersih-bersih terasa memuaskan ketika seseorang sedang menghadapi banyak ketidakpastian. Ada hubungan yang jelas antara tindakan dan hasil: lantai kotor menjadi lebih bersih, pakaian berserakan menjadi tertata, dan barang yang tidak pada tempatnya kembali tersimpan.

Dalam artikel penelitian Spike W. S. Lee dan kolega pada 2023 di Social Psychological and Personality Science, para peneliti menguji gagasan bahwa perilaku membersihkan dapat membantu meredakan dampak pengalaman yang menimbulkan stres.

Penelitian tersebut melibatkan serangkaian eksperimen dengan total ribuan partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa simulasi visual mengenai kegiatan membersihkan dapat mengurangi kecemasan setelah paparan terhadap situasi yang memicu stres. Eksperimen lain juga menemukan bahwa perilaku membersihkan secara nyata berkaitan dengan perubahan respons kardiovaskular dalam menghadapi tekanan sosial.

Temuan tersebut menarik karena stres yang diberikan kepada partisipan tidak berkaitan dengan kotoran yang harus dibersihkan. Artinya, efek yang diamati tidak semata-mata karena seseorang sedang menghilangkan sumber kontaminasi.

Menurut Lee dan kolega, salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa tindakan membersihkan secara fisik memberikan pengalaman "memisahkan" sesuatu dari diri. Pengalaman konkret tersebut mungkin kemudian berhubungan dengan proses psikologis untuk mengambil jarak dari pengalaman yang sebelumnya mengganggu.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|