Abu Vulkanik Bisa Menempel di Peralatan Rumah Tangga hingga Makanan, Berisiko Tertelan Saat Makan

7 hours ago 3

Fimela.com, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau ternyata tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat di luar rumah. Di dalam rumah pun, masyarakat bisa tetap terdampak abu vulkanik yang telah menyebar. Salah satunya menempel pada peralatan rumah tangga

Ketika abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar hingga permukiman, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada lantai, teras, halaman, atau kendaraan yang berubah menjadi berdebu. Padahal, partikel abu dapat berpindah dan menempel di berbagai permukaan di dalam rumah, termasuk meja makan, peralatan dapur, alat makan, hingga benda-benda yang digunakan sehari-hari.

Kondisi ini membuat kebersihan rumah perlu mendapat perhatian lebih. Sebab, abu vulkanik tidak hanya berpotensi terhirup, tetapi juga dapat masuk ke dalam tubuh secara tidak sengaja ketika tangan yang terpapar menyentuh makanan atau ketika makanan dan minuman terbuka terkena abu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut abu dan bahan kimia dari erupsi gunung api dapat meningkatkan risiko kontaminasi makanan dan air. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan memastikan makanan tetap terlindungi menjadi bagian penting selama terjadi hujan atau sebaran abu vulkanik.

Abu Vulkanik Tak Hanya Berada di Lantai

Partikel abu yang terbawa angin dapat masuk melalui pintu, jendela, celah bangunan, atau terbawa masuk melalui pakaian dan alas kaki. Begitu berada di dalam rumah, partikel tersebut dapat menempel pada berbagai permukaan.

Meja, kursi, rak, peralatan elektronik, peralatan memasak, hingga permukaan dapur perlu diperhatikan. Terlebih jika abu sudah masuk ke area tempat makanan disiapkan atau dikonsumsi. Karena itu, membersihkan rumah setelah terjadi sebaran abu tidak cukup hanya dengan menyapu lantai.

Yang juga penting adalah memastikan permukaan yang bersentuhan dengan makanan dan tangan dibersihkan secara menyeluruh.

Mengapa Abu Vulkanik yang Tertelan Perlu Diwaspadai?

Abu vulkanik bukan seperti debu rumah tangga biasa. Komposisinya bergantung pada jenis erupsi dan material yang dikeluarkan gunung api. Partikelnya juga dapat bersifat abrasif, sehingga paparan perlu diminimalkan.

Paparan abu yang paling banyak menjadi perhatian adalah melalui pernapasan. Namun, abu juga dapat masuk ke tubuh melalui jalur oral, misalnya ketika makanan yang terbuka terkontaminasi atau tangan yang terkena abu digunakan untuk makan.

USGS mencatat bahwa dalam kondisi tertentu, konsumsi abu dapat menimbulkan dampak pada saluran pencernaan. Pada paparan yang sangat berat, tertelannya abu bahkan dapat menyebabkan penyumbatan usus, meski kondisi tersebut bukan merupakan risiko yang umum pada paparan sehari-hari.

Selain itu, kandungan abu tidak selalu sama antara satu erupsi dan lainnya. Abu yang jatuh di kawasan urban juga dapat berinteraksi dengan polutan selama berada di atmosfer. Karena itu, makanan yang secara langsung terkena abu sebaiknya tidak dianggap otomatis aman hanya karena abu tersebut terlihat tipis.

Jangan Langsung Menyapu Abu dalam Kondisi Kering

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari ketika membersihkan rumah adalah menyapu abu dalam keadaan kering.

Gerakan sapu dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan meningkatkan paparan melalui udara. CDC merekomendasikan permukaan yang terkena abu dibasahi terlebih dahulu untuk mengurangi debu yang beterbangan, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan menggunakan metode basah.

Untuk membersihkan permukaan keras di rumah, gunakan kain lembap atau pel basah. Jika abu cukup banyak, lakukan secara perlahan agar tidak mengangkat partikel ke udara. Saat melakukan pembersihan, gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai. CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH ketika membersihkan abu yang masuk ke dalam rumah.

Bersihkan Peralatan Dapur dan Alat Makan

Area dapur menjadi salah satu bagian rumah yang perlu mendapat perhatian khusus karena berkaitan langsung dengan makanan. Peralatan seperti piring, gelas, sendok, garpu, talenan, pisau, panci, wajan, serta peralatan memasak lainnya yang terpapar abu sebaiknya dibersihkan sebelum digunakan kembali.

Untuk peralatan yang dapat dicuci, bersihkan dengan air dan sabun atau deterjen sesuai materialnya. Setelah itu, bilas hingga bersih dan keringkan. Permukaan meja makan dan meja dapur juga sebaiknya dilap menggunakan kain lembap, bukan dibersihkan dengan cara menyapu atau mengibaskan debu.

Peralatan elektronik seperti air fryer, microwave, dispenser, atau alat pembuat kopi yang memiliki bagian terbuka juga perlu diperiksa. Abu yang masuk ke celah atau bagian dalam perangkat bukan hanya berpotensi menjadi masalah kebersihan, tetapi juga dapat mengganggu fungsi peralatan.

Bagaimana dengan Makanan yang Sudah Terkena Abu?

Ini menjadi salah satu hal yang penting diperhatikan di rumah. Makanan yang diletakkan terbuka saat abu turun berpotensi terkontaminasi. WHO secara khusus menyebut erupsi gunung api dapat menyebabkan kontaminasi makanan dan air.

Karena itu, makanan siap santap yang secara langsung terkena abu sebaiknya tidak dikonsumsi. Terutama makanan yang sulit dibersihkan, seperti makanan berkuah, makanan siap santap, makanan yang memiliki permukaan terbuka, atau makanan yang sudah tercampur dengan abu.

Sementara makanan yang masih berada dalam wadah tertutup rapat dapat tetap disimpan setelah bagian luar kemasannya dibersihkan.

Buah dan sayuran yang terkena abu juga perlu dicuci secara menyeluruh sebelum dikonsumsi. USGS menyebut sayuran dari kebun masih dapat dikonsumsi setelah dicuci terlebih dahulu, selama tidak ada arahan khusus dari otoritas kesehatan setempat untuk menghindarinya.

Lindungi Makanan dan Air Selama Abu Masih Berjatuhan

Pencegahan akan lebih mudah daripada membersihkan makanan yang sudah terkontaminasi. Selama abu masih berjatuhan, simpan makanan dalam wadah yang tertutup rapat. Jangan membiarkan makanan matang, buah yang sudah dipotong, roti, camilan, atau minuman berada di tempat terbuka.

Hal yang sama berlaku untuk air minum. Jika sumber air rumah tangga terkena abu, jangan langsung menganggapnya aman. CDC menyarankan menggunakan sumber air minum lain, seperti air kemasan, apabila air minum telah terkontaminasi abu sampai keamanan sumber air tersebut dapat dipastikan.

USGS juga mencatat bahwa air yang terkena abu umumnya akan mengalami perubahan rasa sebelum menimbulkan risiko kesehatan yang besar, tetapi kualitas air tetap perlu diperhatikan dan mengikuti arahan penyedia air maupun otoritas setempat.

Jangan Lupa Membersihkan Tangan

Kebersihan tangan menjadi langkah sederhana tetapi penting, terutama sebelum menyiapkan makanan dan makan. Abu dapat berpindah dari permukaan rumah ke tangan, kemudian masuk ke tubuh ketika seseorang menyentuh makanan atau mulut. Karena itu, biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air setelah membersihkan rumah, setelah menyentuh benda yang terkena abu, dan sebelum makan atau menyiapkan makanan.

Jika membersihkan rumah, sebaiknya gunakan sarung tangan untuk mengurangi kontak langsung dengan abu, terutama ketika membersihkan permukaan yang cukup banyak terpapar.

Bersihkan Rumah Secara Bertahap

Membersihkan rumah setelah sebaran abu tidak harus dilakukan sekaligus. Justru, pembersihan secara bertahap dapat membantu mengurangi risiko abu kembali beterbangan. Mulailah dari area yang paling sering digunakan, terutama ruang makan dan dapur. Lanjutkan dengan permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja, kursi, serta peralatan rumah tangga.

Jika menggunakan penyedot debu, pilih perangkat dengan sistem filtrasi HEPA yang sesuai. CDC memperingatkan bahwa penyedot debu rumah tangga biasa atau shop vacuum dapat kembali melepaskan abu ke udara. Hindari pula penggunaan leaf blower atau alat lain yang justru membuat abu beterbangan.

Sementara itu, pintu dan jendela sebaiknya tetap ditutup selama abu masih berjatuhan untuk mengurangi masuknya partikel baru ke dalam rumah. CDC juga menyarankan mematikan sistem pemanas, pendingin udara, atau kipas yang menarik udara dari luar ketika kondisi tersebut memungkinkan.

Jika Abu Sudah Terlanjur Tertelan, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika seseorang tidak sengaja menelan sedikit abu, jangan langsung panik. Hal terpenting adalah menghentikan paparan dan tidak kembali mengonsumsi makanan atau minuman yang diduga terkontaminasi.

Bilas mulut dengan air dan minum air bersih secukupnya. Jangan mencoba memicu muntah secara sengaja.

Jika jumlah abu yang tertelan cukup banyak, makanan yang dikonsumsi diketahui sangat terkontaminasi, atau kemudian muncul keluhan seperti muntah berulang, nyeri perut hebat, sulit bernapas, atau kondisi kesehatan memburuk, segera cari pertolongan medis.

Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu juga perlu mendapat perhatian lebih ketika terjadi sebaran abu. Abu vulkanik sendiri dapat memberikan dampak lebih besar pada saluran pernapasan kelompok rentan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti
Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|