Merayakan Tenun Sumba di UMARATU, Rumah Ibu Bumi untuk Perempuan Penenun

8 hours ago 6

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, tenun Indonesia dikenal melalui kekayaan motif, warna, dan proses pembuatan yang telaten. Di balik keindahan itu, termasuk pada Tenun Sumba, tersimpan jejak kehidupan, pengetahuan leluhur, dan peran perempuan yang memastikan tradisi tetap berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat tersebut menjadi inti dari UMARATU – Rumah Ibu Bumi, sebuah perayaan yang dipersembahkan oleh UMARATU Foundation di bawah naungan Oscar Lawalata Culture untuk menyambut Hari Tenun Nasional. Diselenggarakan di The Dharmawangsa Jakarta, acara ini dirancang sebagai ruang apresiasi sekaligus refleksi atas posisi perempuan penenun Sumba Timur sebagai penjaga ingatan budaya Nusantara.

Perhelatan ini juga menandai secara resmi hadirnya UMARATU Foundation, sekaligus menjadi kristalisasi perjalanan Oscar Lawalata Culture selama 25 tahun dalam mendalami dan memperjuangkan keberadaan wastra Indonesia.

Tenun Sebagai Arsip Hidup Peradaban Nusantara

Bagi Asha Smara Darra, Founder Oscar Lawalata Culture dan UMARATU Foundation, tenun tidak berhenti pada fungsi pakai semata. Setiap helai benang membawa pengetahuan, identitas, dan kisah masyarakat yang melahirkannya, menjadikan selembar kain sebagai medium penyimpan memori bersama.

“Tenun Indonesia bukan sekadar lembaran kain nan indah, melainkan naskah bisu yang menuturkan luhurnya peradaban Nusantara,” ujar Asha.

Selama seperempat abad menyelami dunia wastra, Asha memandang perempuan penenun sebagai sosok kunci yang membuat tradisi terus bernapas. Mereka bukan hanya menghasilkan kain, tetapi juga merawat pengetahuan tentang teknik, motif, material, hingga nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Dari sinilah UMARATU lahir, membawa semangat untuk menyediakan ruang yang lebih luas bagi ekosistem tenun. Penamaan “Rumah Ibu Bumi” merefleksikan gagasan tentang tempat yang menaungi, merawat, dan menghidupkan kembali hubungan manusia dengan tradisi serta alam.

Tiga Pilar: Sandang, Pangan, Papan Berbasis Kearifan Lokal

UMARATU Foundation mengusung pendekatan pelestarian yang tidak semata berfokus pada kain. Fondasinya bertumpu pada tiga kebutuhan dasar kehidupan—sandang, pangan, dan papan—yang seluruhnya berakar pada tradisi lokal.

Melalui tiga pilar tersebut, UMARATU menargetkan dampak yang lebih berkelanjutan bagi para penenun dan komunitas budaya. Upaya ini meliputi menjaga ekosistem kain tradisional, memperkuat perekonomian berbasis kebudayaan, serta menciptakan ruang yang mendukung perempuan penenun untuk terus berkarya dan mewariskan pengetahuannya.

Pendekatan ini menempatkan pelestarian budaya bukan sebagai sesuatu yang hanya disimpan di masa lalu. Tradisi dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang terus bertumbuh dan memberi manfaat nyata.

Dengan demikian, warisan budaya dapat berkembang dan relevan untuk generasi masa kini maupun masa depan tanpa kehilangan jati diri yang menjadi fondasinya.

Trunk Show Narasi Kain dari Kampung Raja

Perayaan UMARATU di The Dharmawangsa Jakarta juga menyajikan pengalaman yang mempertemukan mode dengan narasi antropologis Sumba melalui trunk show bertajuk “Narasi Kain Tenun Dari Kampung Raja”. Presentasi ini mengundang tamu untuk melihat kain sebagai medium bercerita.

Lewat rangkaian penampilan tersebut, kain tenun tidak hanya hadir sebagai bagian busana. Ia juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kehidupan serta kekayaan tradisi masyarakat Sumba, mengaitkan estetika dengan konteks sosial-budaya yang melahirkannya.

Koleksi yang dihadirkan berasal dari sejumlah sentra tenun dan kampung adat, termasuk Kampung Raja Prailiu, Pau, Rende, Kampung Adat Kanatang, serta Kaliuda. Setiap wilayah membawa keunikan corak dan pengetahuan yang menguatkan karakternya.

Keberagaman itu memperlihatkan bahwa satu wilayah tidak memiliki satu wajah tenun tunggal. Tiap komunitas memiliki karakter, cerita, dan pengetahuan yang menjadikan kainnya beridentitas khas.

Pengalaman ini kian lengkap dengan persembahan musik yang syahdu dan puitis dari Maestro Jungga, Mama Ata Ratu, yang menghadirkan suasana akrab dan membawa para tamu lebih dekat pada nuansa budaya Sumba.

Mengangkat Sosok Perempuan di Balik Tenun

Di tengah laju industri mode yang semakin cepat, UMARATU mengajak publik untuk kembali menengok apa yang berada di balik pakaian yang dikenakan. Ada waktu, keterampilan, alam, tradisi, dan manusia yang terlibat dalam perjalanan selembar kain sebelum hadir sebagai busana.

Khusus pada tenun tradisional, prosesnya tak terpisahkan dari peran perempuan. Dengan ketekunan dan pengetahuan lintas generasi, para penenun menjadi penjaga agar identitas budaya tidak berhenti sebagai kisah masa lalu.

Semangat Hari Tenun Nasional melalui UMARATU pun melampaui selebrasi terhadap kain tradisional semata. Ia menjadi pengingat bahwa ketika berbicara tentang wastra, kita juga berbicara tentang manusia dan kehidupan yang ada di baliknya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti

inspirasi street style yang nyaman, effortless, dan mudah dipadukan. (Foto/Dok: ZARA)

FashionInspirasi Street Style yang Nyaman untuk Weekend

Tampil santai dan tetap stylish saat akhir pekan dengan inspirasi street style yang nyaman, effortless, dan mudah dipadukan.

 Instagram/ Maia Estianty]

FashionBomber Jacket Retro Kembali Diminati, Begini Inspirasi Padu Padan yang Trendy

Bomber jacket kembali populer. Kenali sejarahnya, tren 2026, dan cara padu padan dari kasual, streetwear, hingga smart-casual, plus pilihan bahan dan warna.

AI kini menjadi bagian dalam proses kreatif desainer, Kamis (3/9/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

FashionKetika 3 Desainer Indonesia Uji Gagasan Bareng AI Gemini

Google Indonesia menggandeng tiga desainer Indonesia: Stella Rissa, TWO STITCHES, dan KRATON, dalam memanfaatkan AI untuk menciptakan kreasi fashion.

Bukan sekadar pop-up store, DRAFT IFDC menghadirkan koleksi kemeja putih dari 22 desainer Indonesia sekaligus mengajak masyarakat berbelanja sambil berdonasi. (Foto/Dok: IFDC Draft)

Fashion22 Desainer Indonesia Hadirkan Atasan Putih untuk Fashion yang Punya Makna

Bukan sekadar pop-up store, DRAFT IFDC menghadirkan koleksi kemeja putih dari 22 desainer Indonesia sekaligus mengajak masyarakat berbelanja sambil berdonasi.

Desainer Yusuke Takahashi berfoto dengan koleksi CFCL VOL.12 di Masari, Plaza Indonesia, Jakarta, 2 September 2026. (Fimela.com/Asnida Riani)

FashionCFCL dan Seni Merajut Kenyamanan dari Kantor hingga Malam Pesta

Perpaduan teknologi, estetika, dan fungsi jadi fondasi koleksi busana CFCL.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|