Agar Mesin Cuci Awet, Hindari 7 Kebiasaan yang Membuat Cepat Rusak

14 hours ago 13

Beberapa perilaku saat mencuci dan merawat mesin kerap tampak sepele, tetapi berisiko tinggi terhadap komponen penting seperti motor, drum, hingga sistem pembuangan. Berikut tujuh kebiasaan umum yang sebaiknya dihindari demi menjaga keawetan mesin cuci di rumah.

1. Melupakan Perawatan Rutin

Melansir laman Good Housekeeping, mesin cuci sebaiknya dibersihkan setiap 3-6 bulan sekali dengan pembersih khusus. Pembersihan ini krusial untuk mencegah penumpukan kotoran, sisa deterjen, dan jamur yang membuat mesin bekerja lebih berat.

Frekuensi pembersihan ideal bervariasi: untuk penggunaan intensif (lebih dari empat kali seminggu), pembersihan bulanan sangat dianjurkan. Untuk penggunaan moderat (dua hingga tiga kali seminggu), setiap tiga bulan sudah cukup. Jika tinggal di daerah panas atau sering mencuci pakaian yang sangat kotor, pembersihan setiap 4-6 minggu sekali disarankan. Jangan biarkan cucian terlalu lama di dalam tabung setelah selesai dicuci, dan biasakan membiarkan pintu serta laci deterjen terbuka saat tidak digunakan agar bagian dalam mesin tetap kering.

2. Mencuci Melebihi Kapasitas

Setiap mesin cuci memiliki kapasitas maksimal. Memaksa mesin mencuci beban berlebih akan memberatkan kerja motor, drum, dan bantalan (bearing). Kelebihan muatan juga memicu getaran berlebihan dan ketidakseimbangan pada drum yang berujung pada kerusakan mekanis.

Selain itu, proses pencucian menjadi tidak efisien karena air dan deterjen tidak bersirkulasi baik di antara pakaian sehingga hasil cucian kurang bersih. Konsumsi energi pun meningkat signifikan. Disarankan mengisi tabung hanya sekitar 3/4 penuh agar mesin dapat bekerja optimal.

3. Tidak Memeriksa Kantung Pakaian Sebelum Dicuci

Kebiasaan melewatkan pemeriksaan kantung pakaian bisa membawa risiko. Benda kecil dan keras seperti koin, kunci, atau sekrup dapat merusak tabung bagian dalam maupun luar saat terlempar selama proses pencucian. Sementara itu, benda lunak seperti tisu, kertas, atau uang tunai berpotensi menyumbat saluran pembuangan dan mengganggu aliran air.

Lebih berbahaya, baterai yang ikut tercuci dapat pecah atau bocor sehingga merusak komponen internal dan memicu risiko kebakaran. Pemeriksaan kantung sebelum mencuci adalah langkah preventif yang sangat penting.

4. Membiarkan Keran Terbuka Setelah Mencuci

Membiarkan keran air tetap terbuka memberi tekanan terus-menerus pada selang dan katup mesin cuci. Seiring waktu, tekanan konstan ini dapat membebani komponen dan meningkatkan potensi kebocoran.

Kebocoran air bisa merusak komponen lain, termasuk memicu korosi pada bagian elektronik maupun mekanis. Menutup keran air setelah setiap penggunaan adalah kebiasaan sederhana namun efektif untuk memperpanjang usia selang dan katup, serta mengurangi risiko masalah di kemudian hari.

5. Menggunakan Satu Jenis Deterjen untuk Semua Pakaian

Melansir laman Good Housekeeping, menggunakan satu jenis deterjen untuk semua kebutuhan dapat menurunkan efisiensi pencucian. Deterjen memiliki formulasi berbeda sesuai kondisi dan jenis kain. Deterjen bubuk biologis, misalnya, efektif untuk noda membandel dan mencerahkan pakaian putih karena mengandung enzim, namun dapat memicu reaksi pada kulit sensitif.

Di sisi lain, deterjen non-bio lebih cocok untuk kulit sensitif, terutama yang bebas pewangi. Deterjen untuk pakaian berwarna dirancang mencegah warna cerah menjadi kusam. Deterjen cair lebih mudah larut dan minim residu sehingga cocok untuk mesin modern, sementara deterjen bubuk cenderung lebih ekonomis namun terkadang meninggalkan residu jika tidak larut sempurna di air dingin. Memilih deterjen yang tepat membantu menjaga hasil cucian sekaligus kondisi mesin.

6. Menggunakan Terlalu Banyak Deterjen

Anggapan bahwa semakin banyak deterjen akan membuat pakaian semakin bersih adalah mitos. Penggunaan berlebihan justru meninggalkan residu pada pakaian dan menumpuk di tabung, selang, serta bagian internal mesin.

Penumpukan residu menjadi media ideal pertumbuhan jamur dan bakteri, menyebabkan bau tak sedap pada mesin dan pakaian. Busa berlebih juga mengganggu perputaran tabung sehingga mesin bekerja tidak optimal, bahkan memaksa pompa dan motor bekerja lebih keras. Pembilasan pun menjadi kurang sempurna sehingga pakaian terasa lengket atau kurang bersih. Selalu ikuti takaran yang direkomendasikan pada kemasan deterjen.

7. Tidak Membersihkan Filter Mesin Cuci

Filter berperan krusial menyaring kotoran, serat kain, rambut, dan benda asing agar tidak menyumbat sistem pembuangan atau merusak komponen internal. Mengabaikan pembersihan filter membuat aliran air terhambat, proses mencuci tidak maksimal, dan mesin bekerja lebih keras dari biasanya.

Dampaknya bisa merusak pompa air dan menurunkan efisiensi mesin. Endapan kotoran di filter juga memicu bau tak sedap pada pakaian. Filter sebaiknya dibersihkan secara rutin, setidaknya sebulan sekali. Caranya: matikan dan cabut kabel mesin, temukan filter, lepaskan, bilas dengan air mengalir, sikat kotoran yang menempel, lalu pasang kembali.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|