Fimela.com, Jakarta Sebuah karya seni dan aliran emosi seseorang selalu berkaitan dengan sangat erat dan tak terpisahkan. Melalui seni kita dapat mencurahkan beragam emosi, menyalurkan segala perasaan, hingga refleksi diri. Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Didit Hediprasetyo, saat pandemi datang kurang lebih 5 tahun yang lalu. Saat ditemui oleh tim Fimela.com Jumat, 2 Mei 2025, ia bercerita tentang pengalamannya mengalami kecemasan saat pandemi Covid 19 dan menyalurkannya melalui kegiatan terapi seni.
Bersama Yayasan Didit Hediprasetyo, Didit ingin berbagi pengalamanya dalam sebuah pameran "Expression of the Journey" yang dibuka pada hari Jumat, 2 Mei 2025 kemarin di The Dharmawangsa Jakarta . Sebuah pameran yang memamerkan karya seni yang dibuat oleh Didit Hediprasetyo, sahabat-sahabat Didit Hediprasetyo Foundation dan anak-anak yatim piatu yang berpartisipasi dalam sesi terapi seni transformatif. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan dan dipimpin oleh terapis seni Gestalt bersertifikat Monica Ogaz.
Program ini diselenggarakan untuk merayakan ketahanan dan kekuatan batin setiap orang dengan menerjemahkan perjalanan emosional mereka menjadi sebuah ekspresi visual yang kuat. Sebagai bagian dari misi yang berkelanjutan, Yayasan Didit Hediprasetyo secara teratur berkolaborasi dengan praktisi terkemuka dalam kesehatan mental dan kesejahteraan. Salah satu praktisi tersebut adalah Monica Ogaz, seniman Meksiko yang tinggal di Florence yang memadukan seni visual dengan psikoterapi untuk mendukung penyembuhan emosional, khususnya pada anak-anak dan remaja.
Didirikan pada tahun 2023, Yayasan Didit Hediprasetyo didirikan sebagai respons terhadap tantangan kesehatan yang berkembang dalam industri kreatif. Menyadari potensi penyembuhan dari praktik kesadaran dan kreatif, Yayasan berkomitmen untuk mempromosikan kesejahteraan mental dengan mendukung pendidikan holistik, menawarkan beasiswa bagi calon praktisi yoga dan meditasi, dan menciptakan platform untuk ekspresi artistik dan dukungan psikologis.
Terapi Seni Transformatif
Pendekatan terapi seni transformatif menekankan ekspresi kreatif sebagai proses pertumbuhan dan kesadaran diri, bukan kesempurnaan artistik. Beberapa minggu sebelum pameran, Ogaz mengadakan sesi terapi seni dengan anak-anak dari Yayasan Bima Azzahra dan Panti Asuhan Pondok Kasih Agape di ruang kegiatan Yayasan. Anak-anak menyambut kesempatan itu dengan keterbukaan, mengekspresikan pengalaman hidup dan lanskap emosional mereka melalui seni.
Karya-karya yang dihasilkan ini membentuk inti pameran—setiap karya merupakan refleksi dari perjalanan pribadi mereka dan bukti kekuatan seni dalam penyembuhan.
"Kami percaya bahwa penyembuhan dan pertumbuhan dimulai dengan kemampuan untuk mengungkapkan apa yang tidak selalu dapat diungkapkan dengan kata-kata. Pameran ini tidak hanya merupakan penghargaan atas keberanian anak-anak ini, tetapi juga panggilan untuk mengakui seni sebagai bagian penting dari kesejahteraan mental, terutama sejak usia dini" kata Didit.
Ogaz menambahkan, “Sepanjang sesi, peserta diminta untuk membalikkan lukisan mereka, menutup mata, dan bahkan menukar hasil karya mereka dengan orang lain. Tindakan sederhana ini bukan tentang teknik; melainkan tentang belajar untuk melepaskan, memercayai proses, dan mempraktikkan kemurahan hati terhadap orang lain. Dengan melakukan itu, kami menemukan bahwa seni bukan hanya tentang individu, tetapi tentang pengalaman kolektif—ekspresi bersama dari kemanusiaan kita. Di sini, Anda akan menemukan karya orang dewasa, anak-anak, dan individu dari berbagai latar belakang—termasuk mereka yang berasal dari panti asuhan. Karya-karya ini mengingatkan kita bahwa, terlepas dari perbedaan kita, kita semua unik dengan cara kita sendiri, dan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menjembatani jurang pemisah, merayakan keberagaman, dan menyatukan kita semua dalam pengalaman penciptaan bersama.”
Komitmen Mulia Didit Hediprasetyo Foundation
Selain pameran, acara ini selanjutnya akan mencakup seminar berjudul Embarkingthe Journey, yang dipimpin oleh Dr. Asheena Baez—transformational leadership coach & mindfulness expert. Seminar tersebut akan mengeksplorasi pendekatan holistik dan berbasis trauma terhadap kesehatan mental, menekankan bagaimana terapi dapat berfungsi sebagai gerbang menuju pertumbuhan pribadi jangka panjang. Program ini juga mencakup sesi terapi seni interaktif untuk anak-anak berusia 6–15 tahun, yang difasilitasi oleh Ogaz, dengan fokus pada pengaturan emosi dan perilaku melalui eksplorasi kreatif.
Pada sesi penutupan tanggal 4 Mei 2025, akan diadakan sesi kelas yang menghadirkan Dr. Shefali, psikolog klinis yang diakui secara internasional dan penulis buku terlaris The Conscious Parent. Disertai oleh Dr. Baez, Ogaz, dan pendidik Indonesia Najelaa Shihab. Sesi ini akan membahas lebih mendalam tentang pola asuh dengan metode yang bertumpu pada kekuatan kesadaran penuh untuk menumbuhkan kecerdasan emosional sejak masa kanak-kanak. Melalui program yang bermakna ini, Yayasan Didit Hediprasetyo menegaskan kembali komitmennya untuk membangun masa depan di mana kesehatan, kreativitas, dan ketahanan emosional dapat diakses oleh semua orang, dimulai dari generasi termuda.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.