FabBRICK, Terobosan Daur Ulang Limbah Tekstil Menjadi Batu Bata Fungsional dan Estetik

17 hours ago 4

Fimela.com, Jakarta - Limbah tekstil menjadi salah satu jenis limbah yang cukup sulit dan lama terurai, tergantung dari bahan yang digunakan. Untuk bahan sintetis seperti poliester dan nilon, butuh sekitar ratusan tahun. Sementara denim bahkan bisa lebih dari 200 tahun. Hal ini membuat limbah tekstil menjadi masalah lingkungan yang serius karena sering berakhir di tempat pembuangan akhir yang mencemari air dan tanah.

Sementara itu, jumlah limbah tekstil terus bertambah setiap tahunnya yang turut meningkatkan tingkat pencemaran lingkungan. Untuk menekan tingkat pencemaran lingkungan, seorang perempuan asal Prancis bernama Clarisse Merlet mengubah limbah tekstil menjadi batu bata.

Inisiatifnya ini bukan hanya inisiasi jangka pendek. Melalui perusahaan yang diberi nama FabBRICK, Clarisse Melte mendaur ulang limbah tekstil menjadi batu bata yang konon merupakan isolator termal dan akustik yang sangat baik. Di Prancis sendiri, limbah tekstil diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton, namun kurang dari sepertiganya dikumpulkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang di negara tersebut.

Proses di Balik Indahnya Batu Bata

Pada tahun 2017, mahasiswa arsitektur Clarisse Merlet terkejut menemukan jumlah limbah tekstil global yang sangat besar, belum lagi jumlah limbah yang mengejutkan di industri konstruksi. Hal ini membuatnya berpikir dan beride, bagaimana jika ia dapat memanfaatkan sumber daya yang sama yang telah diekstraksi untuk pembangunan?

Maka, FabBRICK pun lahir, sebuah perusahaan yang mengembangkan batu bata dekoratif dan isolatif dari pakaian bekas. Pada April 2019, perusahaan tersebut menerima dukungan dengan menutup putaran penggalangan dana sebesar EUR€10.000 (sekitar US$11.000) yang digunakan untuk mengembangkan mesin pembuat batu bata guna mengindustrialisasi proses produksi.

Setiap batu bata menggunakan sekitar dua hingga tiga potong kain bekas kaos yang dibeli Merlet dari pemasok di Normandy. Selain katun, poliester, elastane, PVC, dapat digunakan dalam proses pembuatannya, dan dengan lem ramah lingkungan yang dikembangkan sendiri oleh Merlet, potongan-potongan kain tersebut pertama-tama dicampur dan kemudian ditekan ke dalam cetakan batu bata. Tanpa campur tangan manusia dalam proses ini, cetakan menggunakan kompresi mekanis untuk membentuk batu bata. Batu bata basah ini kemudian dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan kering selama dua minggu sebelum dapat digunakan.

Dalam sebuah wawancara dengan Brut, Merlet mengatakan bahwa menjadi mahasiswa arsitektur membuatnya mencari cara untuk membangun dengan cara yang berbeda.

“Jadi saya membuat berbagai prototipe dengan berbagai lem ramah lingkungan dan mencoba berbagai cara memasukkan tekstil ke dalam cetakan untuk mengompresnya. Akhirnya saya menemukan prototipe yang tahan lama, bereaksi baik terhadap api, dan tahan terhadap kelembapan.”

Jadi Langganan Ritel Ternama

Tersedia dalam empat ukuran berbeda, perusahaan tersebut mengatakan bahwa batu bata ini merupakan isolator termal dan akustik yang sangat baik, artinya batu bata ini cocok untuk partisi ruangan, dinding dekoratif di toko ritel, dan juga dapat digunakan untuk membuat furnitur seperti lampu, meja, bangku, dan banyak lagi. Meskipun dapat digunakan dalam konstruksi, batu bata ini dirancang untuk tujuan struktural, sesuatu yang sedang dikerjakan oleh Merlet.

Menurut situs web perusahaan, “Sejak didirikan pada akhir tahun 2018, kami telah mendesain lebih dari 40.000 batu bata yang mewakili 12 ton tekstil daur ulang. Terlebih lagi? FabBRICK dapat mempersonalisasi warna dinding Anda dengan pakaian yang Anda putuskan untuk didaur ulang.”

FabBRICK telah bekerja sama dengan pusat perbelanjaan Paris, Galeries Lafayette, untuk seri kerajinan tangan, dan dengan Vinci Construction untuk mengubah seragam kerja mereka sendiri menjadi bangku dan lampu.

Dalam sebuah wawancara dengan Novethic, Merlet menunjukkan prototipe batu bata yang terbuat dari masker bedah yang diparut yang dapat membantu mengatasi limbah terkait pandemi. “Kami belum tahu bagaimana cara menjualnya, karena masih harus melewati sejumlah uji laboratorium, terutama uji api, tetapi idenya adalah untuk membuat beberapa perabot kecil dan melihat bagaimana fungsinya.”

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|