HUT Dekranas RI ke-46 Soroti Tren Sustainable Craft, Saatnya Kerajinan Indonesia Mendunia

11 hours ago 9

Fimela.com, Jakarta - Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan, produk kerajinan ramah lingkungan semakin mendapat tempat di hati konsumen. Bukan lagi sekadar benda dekoratif atau buah tangan, produk kriya kini dipandang sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan yang mengedepankan nilai budaya sekaligus kepedulian terhadap bumi.

Semangat inilah yang menjadi sorotan dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-46 Dewan Kerajinan Nasional yang mengusung tema "Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia". Menginjak usia ke-46, Dekranas ingin menunjukkan bahwa kekayaan kerajinan Indonesia tidak hanya memiliki nilai estetika dan budaya, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pasar global yang semakin peduli pada keberlanjutan.

Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, menjelaskan bahwa tema keberlanjutan dipilih karena sebagian besar produk kerajinan Indonesia lahir dari bahan-bahan alami, mulai dari serat alam, tanah liat, kayu, hingga batu dan mineral.

"Kerajinan memiliki hubungan yang sangat erat dengan isu keberlanjutan. Kami terus mendorong para perajin untuk menciptakan dan menjaga produk yang ramah lingkungan agar dapat diterima oleh pasar internasional," ujarnya.

Kerajinan Berkelanjutan Semakin Diminati Dunia

Bukan tanpa alasan Dekranas menempatkan isu keberlanjutan sebagai tema utama tahun ini. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen global, terutama generasi muda, semakin memperhatikan bagaimana sebuah produk dibuat, mulai dari sumber bahan baku, proses produksi, hingga dampaknya terhadap lingkungan.

Bagi Indonesia, hal ini menjadi peluang besar. Sebab, banyak produk kriya Nusantara yang sejak dahulu telah mengusung prinsip keberlanjutan secara alami. Mulai dari anyaman berbahan daun lontar, tenun yang menggunakan pewarna alami, hingga produk kerajinan berbasis limbah yang diolah kembali menjadi barang bernilai tinggi.

Tak hanya itu, Dekranas juga mendorong para pelaku kriya untuk terus berinovasi melalui kolaborasi dengan desainer, penguatan branding, hingga pengemasan produk agar lebih relevan dengan kebutuhan konsumen masa kini.

Dari Produk Budaya Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

Kerajinan tangan Indonesia kini tidak lagi diposisikan semata sebagai produk budaya atau koleksi etnik. Berbagai produk kriya dan wastra mulai bertransformasi menjadi barang yang fungsional dan dekat dengan keseharian.

Kain tenun dan batik, misalnya, kini hadir dalam berbagai desain modern yang dapat dikenakan untuk aktivitas kasual. Begitu pula dengan produk kerajinan berbahan alami yang diolah menjadi aksesori, dekorasi rumah, hingga perlengkapan sehari-hari seperti tumbler dan home decor.

Sekretaris Jenderal Dekranas, Reni Yanita, mengatakan bahwa salah satu fokus Dekranas saat ini adalah meningkatkan minat generasi muda terhadap produk kriya.

"Kami mendorong para perajin untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan penjualan, serta memahami selera generasi muda. Produk budaya seperti tenun dan batik tidak lagi terbatas digunakan untuk acara formal, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari," ungkapnya.

Makassar Jadi Tuan Rumah Perayaan ke-46

Perayaan HUT Dekranas ke-46 tahun ini akan berlangsung di Makassar, tepatnya pada 9-11 Juli 2026. Pemilihan Makassar sebagai tuan rumah juga memiliki makna tersendiri. Menurut Tri Tito Karnavian, penyelenggaraan di Makassar merupakan bagian dari upaya pemerataan, sehingga wilayah Indonesia Timur juga mendapatkan kesempatan menjadi pusat perhelatan nasional.

Acara ini telah dipersiapkan selama satu tahun sejak perayaan HUT Dekranas ke-45 di Balikpapan dan tidak hanya menghadirkan seremoni, tetapi juga pameran UMKM yang melibatkan sekitar 300 tenant dari 38 provinsi serta 512 kabupaten dan kota di Indonesia.

Pameran yang digelar di pusat perbelanjaan ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pengunjung sekaligus menjadi media bagi para perajin untuk memperkenalkan karya terbaik mereka kepada masyarakat.

Sebagai tuan rumah, Sulawesi Selatan juga akan memperkenalkan berbagai kekayaan lokalnya, mulai dari tenun sutra khas daerah, anyaman lontar yang telah meraih penghargaan nasional, hingga produk-produk kriya dari berbagai kabupaten.Tak hanya pameran kerajinan, pengunjung juga akan dimanjakan dengan beragam pertunjukan budaya dan festival kuliner yang menghadirkan hidangan khas seperti coto Makassar, pisang epe, nasi mandoti, hingga barobbo.

Berbagai pengalaman tersebut diharapkan meninggalkan kesan mendalam bagi para tamu yang datang ke Makassar.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti
Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|