Kenapa Kita Overthinking Setelah Mengirim Pesan Panjang?

16 hours ago 2

Fimela.com, Jakarta - Pernah mengalami momen ini, Sahabat Fimela? Kamu baru saja mengirim pesan panjang pada aplikasi chatting, isinya jujur, runtut, penuh perasaan, lalu beberapa menit setelahnya muncul gelombang pikiran: Duh, tadi kepanjangan nggak ya? Atau terlalu emosional? Salah kata nggak tadi? Kok belum dibalas sih?

Padahal sebelumnya kamu sudah yakin dengan isi pesan itu, tapi begitu terkirim, rasa tenang mendadak berubah jadi rasa cemas. Jika ini terasa familiar, kamu tidak sendirian. Overthinking setelah mengirim pesan panjang adalah pengalaman emosional yang cukup umum dan ada penjelasan psikologis di baliknya.

Yuk, kita pahami pelan-pelan.

Pesan Panjang adalah Bentuk Kerentanan Emosional

Pesan panjang biasanya bukan sekadar informasi. Ia sering membawa perasaan yang diwujudkan menjadi penjelasan, klarifikasi, uneg-uneg, atau isi hati. Saat menulisnya, kita membuka sisi kita yang rentan, menunjukkan apa yang benar-benar kita pikirkan dan rasakan.

Dalam psikologi, membuka kerentanan selalu membawa risiko emosional yang beragam. Misalnya, risiko tidak dipahami, diabaikan, bahkan ditolak. Begitu pesan terkirim, kontrol pada perasaan seolah berpindah ke orang lain. Kita tidak bisa lagi mengedit, menarik, atau menjelaskan ulang secara langsung. Di situlah kecemasan mulai muncul. Bukan karena pesannya salah, tapi karena hatinya ikut terkirim.

Sering kali, pesan panjang lahir dari kebutuhan untuk benar-benar dipahami. Kita tidak ingin hanya dibaca, tetapi juga dimengerti. Semakin besar kebutuhan itu, maka taruhannya terasa besar juga. Wajar jika setelah mengirim, hati seolah ikut “menunggu nasib.”

Otak Tidak Suka Ketidakpastian

Salah satu pemicu utama overthinking adalah jeda berpikir tanpa menghentikannya. Otak manusia cenderung tidak nyaman dengan ketidakpastian. Saat tidak ada balasan, pikiran mulai mengisi kekosongan dengan berbagai skenario:

  • Dia tersinggung?
  • Aku terlalu berlebihan?
  • Harusnya tadi lebih singkat?
  • Jangan-jangan aku terlihat menyebalkan?

Padahal fakta di lapangan bisa saja sederhana, entah orangnya sedang sibuk, belum sempat membaca, atau butuh waktu mencerna. Namun, otak yang cemas jarang memilih penjelasan paling netral, ia cenderung memilih kemungkinan paling mengancam secara emosional.

Kita Membaca Ulang dari Sudut Pandang “Takut Dinilai”

Menariknya, setelah pesan terkirim, kita sering membacanya ulang, tapi bukan lagi sebagai penulis, melainkan sebagai “pihak yang tertuduh.” Nada yang tadinya terasa wajar tiba-tiba terdengar berlebihan. Kalimat yang jujur terasa begitu dramatis. Penjelasan terasa seperti sebuah pembelaan. 

Budaya komunikasi digital juga memiliki peranan penting. Dimana kita terbiasa melihat teks sebagai sesuatu yang bisa diedit, dirapikan, dan disempurnakan. Jadi, ketika sudah terlanjur terkirim, muncul rasa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki.

Ditambah lagi, chat tidak membawa ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh. Akibatnya, kita takut disalahartikan.

Mode mental kita tba-tiba saja bergeser, dari tindakan untuk mengekspresikan diri, menjadi ajang evaluasi diri. Kita membayangkan bagaimana sudut pandang dan perasaan orang lain menilai pesan itu, lalu menghakimi diri sendiri terlebih dulu.

Cara Menenangkan Diri Setelah Mengirim Pesan Panjang

Jika kamu sering mengalami ini, beberapa pendekatan kecil bisa membantu:

  • Berikan jeda interpretasi. Belum dibalas bukan berarti buruk. Itu hanya berarti belum dibalas.
  • Ingat niat awalmu. Kamu menulis untuk jujur dan peduli terhadap dirimu sendiri. Tahan dorongan menjelaskan ulang. Mengirim pesan tambahan karena panik justru sering memperkeruh keadaan.
  • Alihkan perhatian tubuh. Tarik napas, minum air, bergerak sebentar. Jangan biarkan dirimu larut dalam kepalamu sendiri.
  • Terima bahwa kerentanan bukan kesalahan. Berani mengekspresikan diri adalah kekuatan dalam mempertahankan sebuah hubungan, bukan kelemahan.

Pada akhirnya, mengirim pesan panjang adalah bentuk keberanian emosional. Itu tanda kamu peduli pada komunikasi yang jujur. Jika setelahnya muncul rasa cemas, perasaan itu muncul bukan karena kamu salah telah mencoba berkomunikasi, tapi itu hanya tanda bahwa apa yang kamu rasakan nyata dan hatimu ikut terlibat. Dan keterlibatan hati, meski membuatmu menjadi seseorang yang rentan, justru membuat hubungan terasa nyata.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|