Tren "Underconsumption" yang Semakin Banyak Diterapkan Keluarga Muda di 2026

9 hours ago 3

Fimela.com, Jakarta - Tren "underconsumption" yang semakin banyak diterapkan keluarga muda menjadi salah satu topik yang ramai dibicarakan di media sosial. Berbeda dengan kebiasaan membeli barang baru demi mengikuti tren, gaya hidup ini justru mengajak masyarakat menggunakan barang yang sudah dimiliki selama masih layak pakai.

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan kesadaran terhadap isu lingkungan, banyak keluarga muda mulai mempertimbangkan kembali kebiasaan berbelanja. Mereka lebih memilih memperbaiki, menggunakan kembali, atau membeli barang bekas berkualitas daripada terus menambah koleksi baru.

Fenomena ini bukan sekadar soal menghemat pengeluaran, tetapi juga tentang membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bijak. Meski populer melalui TikTok dengan sebutan underconsumption core, nilai-nilai yang dibawanya sebenarnya telah lama dipraktikkan oleh banyak keluarga, berikut ulasan lengkapnya, Rabu (15/7/2026).

Apa Itu Underconsumption?

Secara sederhana, underconsumption hadir sebagai kebalikan dari overconsumption atau konsumsi berlebihan. Menurut artikel Fabric of Change, overconsumption mengacu pada penggunaan barang atau sumber daya secara berlebihan hingga melampaui kebutuhan dan bahkan melampaui kemampuan bumi untuk menyediakannya secara berkelanjutan.

Namun, konsep underconsumption yang viral di media sosial sebenarnya tidak berarti seseorang membeli barang jauh di bawah kebutuhan. Sebaliknya, tren ini lebih menekankan pada penggunaan barang sesuai fungsi dan selama mungkin sebelum memutuskan menggantinya.

Dengan kata lain, seseorang tetap membeli ketika memang membutuhkan, tetapi tidak terdorong membeli hanya karena tergoda promosi, tren, atau rasa takut ketinggalan (fear of missing out/FOMO).

Mengapa Underconsumption Banyak Diminati Keluarga Muda?

Ada beberapa alasan mengapa tren "underconsumption" yang semakin banyak diterapkan keluarga muda mendapat sambutan positif.

1. Biaya hidup yang semakin tinggi

Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat banyak pasangan muda mulai menyusun prioritas keuangan. Mereka lebih berhati-hati mengalokasikan anggaran agar tetap memiliki dana darurat, tabungan pendidikan anak, maupun investasi.

Alih-alih membeli dekorasi rumah baru setiap musim atau mengganti gawai setiap kali muncul model terbaru, mereka memilih menggunakan barang yang masih berfungsi dengan baik.

2. Kesadaran terhadap lingkungan meningkat

Menurut The Guardian, meningkatnya perhatian terhadap dampak fast fashion dan limbah konsumsi turut mendorong popularitas underconsumption core. Banyak orang mulai memahami bahwa memperpanjang usia pakai suatu barang merupakan salah satu cara sederhana mengurangi sampah dan penggunaan sumber daya alam.

Prinsip seperti memakai pakaian berulang kali, membeli barang bekas, hingga memperbaiki peralatan rumah tangga kembali dianggap sebagai kebiasaan positif.

3. Jenuh dengan budaya konsumtif media sosial

Media sosial selama bertahun-tahun dipenuhi konten haul, unboxing, hingga rekomendasi belanja tanpa henti. Akibatnya, muncul tekanan sosial seolah-olah seseorang harus selalu memiliki barang terbaru agar dianggap mengikuti perkembangan zaman.

Menurut Fabric of Change, kehadiran konten underconsumption core menjadi penyegar karena menunjukkan bahwa menggunakan barang lama bukan sesuatu yang memalukan. Justru, hal tersebut dapat menjadi pilihan hidup yang masuk akal.

Ciri-Ciri Gaya Hidup Underconsumption

Keluarga yang menerapkan gaya hidup ini umumnya memiliki beberapa kebiasaan berikut.

Menggunakan barang sampai benar-benar habis masa pakainya

Daripada mengganti panci hanya karena modelnya sudah lama, mereka tetap menggunakannya selama masih aman dipakai.

Hal yang sama berlaku untuk pakaian, sepatu, tas, furnitur, hingga perlengkapan dapur.

Memperbaiki daripada langsung membeli baru

Barang elektronik yang rusak ringan diperbaiki terlebih dahulu sebelum diputuskan diganti.

Kebiasaan ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga membantu mengurangi limbah elektronik yang terus meningkat setiap tahun.

Membeli sesuai kebutuhan

Sebelum membeli suatu produk, mereka biasanya bertanya:

Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?Apakah sudah memiliki barang serupa?Apakah masih bisa memanfaatkan barang yang ada?Pertanyaan sederhana tersebut membantu mengurangi pembelian impulsif.

Memanfaatkan barang bekas berkualitas

Tidak sedikit keluarga muda yang mulai membeli furnitur, perlengkapan bayi, buku, atau pakaian preloved yang masih dalam kondisi sangat baik.

Selain lebih hemat, langkah ini juga memperpanjang siklus penggunaan barang.

Underconsumption Bukan Berarti Hidup Serba Kekurangan

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa underconsumption identik dengan hidup pelit atau menahan diri secara berlebihan.

Padahal, menurut The Guardian, inti gerakan ini adalah mindful consumption atau konsumsi yang dilakukan secara sadar.

Seseorang tetap boleh membeli barang baru apabila memang dibutuhkan. Yang dihindari adalah membeli hanya karena tren, diskon besar, atau dorongan media sosial.

Dengan demikian, kualitas hidup tetap terjaga tanpa harus terjebak dalam siklus belanja yang tidak ada habisnya.

Manfaat Underconsumption bagi Keluarga Muda

Penerapan gaya hidup ini menawarkan berbagai keuntungan.

Keuangan rumah tangga lebih sehat

Pengeluaran konsumtif berkurang sehingga dana dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lebih penting seperti dana darurat, cicilan rumah, pendidikan anak, atau investasi.

Rumah lebih rapi

Semakin sedikit barang yang dimiliki, semakin mudah mengatur penyimpanan.

Rumah terasa lebih lapang dan waktu membersihkan rumah pun menjadi lebih singkat.

Mengurangi limbah

Menggunakan barang lebih lama berarti mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kebiasaan ini juga membantu menekan permintaan terhadap produksi barang baru yang membutuhkan energi dan bahan baku.

Mengurangi tekanan sosial

Menurut Sabrina Pare, kreator konten keberlanjutan yang dikutip The Guardian, kehidupan sederhana sebenarnya adalah hal yang normal. Tidak semua orang harus mengikuti gaya hidup mewah yang sering ditampilkan di media sosial.

Pesan tersebut membantu banyak orang merasa lebih nyaman dengan kondisi kehidupannya sendiri.

Kritik terhadap Tren Underconsumption

Meski membawa banyak sisi positif, para pengamat juga mengingatkan bahwa underconsumption core memiliki beberapa keterbatasan.

Berpotensi hanya menjadi tren sesaat

Menurut Fabric of Change, media sosial sangat cepat berganti tren. Hari ini orang ramai mempromosikan hidup sederhana, beberapa bulan kemudian bisa saja muncul tren konsumsi baru.

Karena itu, yang lebih penting adalah membangun kebiasaan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren viral.

Bisa kehilangan makna jika hanya menjadi estetika

Sebagian orang justru membuang banyak barang lama demi menciptakan tampilan rumah minimalis yang sesuai dengan tren underconsumption.

Ironisnya, tindakan tersebut justru menghasilkan limbah baru dan bertentangan dengan tujuan awal gerakan ini.

Tidak semua orang memilih hidup hemat

The Guardian juga menyoroti bahwa banyak keluarga berpenghasilan rendah telah lama menjalani pola hidup hemat bukan karena tren, melainkan karena kebutuhan ekonomi.

Oleh sebab itu, penting untuk memahami bahwa hidup sederhana bukan sekadar gaya hidup yang estetis, melainkan realitas sehari-hari bagi sebagian masyarakat.

Apakah Underconsumption Layak Diterapkan?

Bagi banyak keluarga muda, jawabannya adalah ya.

Namun, penerapannya tidak harus ekstrem. Mulailah dari kebiasaan sederhana seperti menyelesaikan isi produk perawatan sebelum membeli yang baru, memakai pakaian hingga benar-benar usang, membawa botol minum sendiri, memperbaiki barang yang rusak ringan, serta membuat daftar belanja agar tidak mudah tergoda membeli barang di luar kebutuhan.

Pada akhirnya, tren "underconsumption" yang semakin banyak diterapkan keluarga muda bukan sekadar soal mengurangi belanja. Gaya hidup ini mengajarkan bahwa kepuasan tidak selalu berasal dari memiliki lebih banyak barang, melainkan dari kemampuan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki secara maksimal. Ketika diterapkan secara konsisten, kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kesehatan finansial keluarga sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Pertanyaan Seputar Tren Gaya Hidup

1. Apa yang dimaksud dengan underconsumption?

Underconsumption adalah kebiasaan menggunakan barang secara optimal, membeli sesuai kebutuhan, serta memperpanjang usia pakai barang agar tidak terjadi konsumsi berlebihan.

2. Apakah underconsumption sama dengan hidup pelit?

Tidak. Underconsumption bukan berarti menolak membeli barang, melainkan membeli secara sadar berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar keinginan.

3. Mengapa underconsumption populer di kalangan keluarga muda?

Karena membantu menghemat pengeluaran, mengurangi tekanan konsumtif dari media sosial, serta mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

4. Bagaimana cara mulai menerapkan underconsumption?

Mulailah dengan menggunakan barang hingga habis masa pakainya, memperbaiki barang yang rusak, membuat daftar belanja, dan menghindari pembelian impulsif.

5. Apakah underconsumption benar-benar membantu lingkungan?

Ya. Mengurangi pembelian barang baru dan memperpanjang usia pakai produk dapat membantu mengurangi limbah, penggunaan bahan baku, serta emisi yang dihasilkan selama proses produksi.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Fitriyani Puspa Samodra

    Author

    Fitriyani Puspa Samodra
  • Septika Shidqiyyah

"Micro Hobby", Hobi Singkat yang Cocok untuk Orang Sibuk (Pexels)

Lifestyle8 Ide "Micro Hobby", Hobi Singkat yang Cocok untuk Orang Sibuk

Temukan ketenangan di tengah kesibukan dengan fenomena "micro hobby", hobi singkat yang cocok untuk orang sibuk. Simak panduan lengkap dan ide aktivitasnya di sini!

Model Courtyard dengan Skylight. (AI Generated)

Info6 Model Courtyard dengan Skylight, Rumah Lebih Terang dan Terasa Lapang

Model courtyard dengan skylight menghadirkan pencahayaan alami optimal, sirkulasi udara lebih baik, serta estetika menawan.

 AI Generated)

FoodResep Bakwan Jantung Pisang, Camilan dari Bahan yang Sering Terbuang

Cara membuat resep bakwan jantung pisang anti-gagal, cocok untuk camilan sore bersama teh hangat.

Home Café Jadi Gaya Hidup Baru (AI Generated)

LifestyleHome Café Jadi Gaya Hidup Baru, Ini Alasan Banyak Orang Betah di Rumah

Gaya hidup home café semakin populer karena mampu menciptakan suasana nyaman tanpa harus sering keluar rumah. Simak 7 alasan mengapa konsep ini membuat banyak orang betah di rumah.

Ide Organizer Dapur dari Galon Bekas. (AI Generated)

Info10 Ide Organizer dari Galon Bekas yang Hemat Tempat, Bikin Rumah Rapi

Bingung menata barang di rumah kecil? Simak 10 ide organizer dari galon bekas yang hemat tempat, mulai dari dapur hingga kamar anak.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|