Kerja Keras Tiada Henti, Sudahkah Hatimu Benar-Benar Bahagia?

5 hours ago 3

Fimela.com, Jakarta - Banyak orang yang bangun pagi dengan semangat mengejar target, menuntaskan daftar pekerjaan, dan memastikan semua tanggung jawab selesai tepat waktu. Kalender penuh, notifikasi tak berhenti, rapat demi rapat datang silih berganti. Secara pencapaian, hidup terlihat produktif. Namun, di sela semua kesibukan itu, ada satu pertanyaan yang sering luput: sudahkah merasa bahagia hari ini?

Bekerja keras adalah sikap terhormat. Itu tanda tanggung jawab dan kesungguhan. Tidak ada yang salah dengan ambisi, tidak ada yang keliru dengan ingin berkembang. Namun, ketika kerja habis-habisan menjadi satu-satunya fokus, hidup bisa terasa seperti lomba yang tidak pernah selesai. Target tercapai, lalu muncul target baru. Apresiasi datang sebentar, lalu berganti tuntutan berikutnya.

Sahabat Fimela, pernahkah berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa semua ini dijalani?

Banyak orang mengira kebahagiaan akan otomatis datang ketika posisi naik, penghasilan bertambah, atau pencapaian diakui. Padahal, kebahagiaan tidak selalu menunggu garis akhir. Ia sering hadir dalam proses, dalam momen-momen kecil yang justru terlewat karena terlalu sibuk mengejar yang besar.

Kerja keras memang penting, tetapi kebahagiaan bukan hadiah yang ditunda tanpa batas waktu.

Ada tanda-tanda sederhana yang patut diperhatikan. Misalnya, ketika bangun pagi yang terasa pertama kali adalah lelah, bahkan sebelum hari dimulai. Atau ketika akhir pekan hanya dipakai untuk memulihkan energi tanpa benar-benar menikmati waktu. Atau saat pencapaian besar terasa biasa saja karena pikiran sudah sibuk dengan kekhawatiran berikutnya.

Itu bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa tubuh dan batin meminta perhatian.

Produktif bukan berarti harus mengorbankan diri terus-menerus. Banyak orang terlalu keras pada dirinya sendiri. Standar dibuat tinggi, kesalahan kecil disesali berlebihan, waktu istirahat dianggap kemewahan. Padahal, manusia bukan mesin. Energi terbatas, emosi juga perlu dirawat.

Coba lihat kembali rutinitas yang dijalani. Apakah ada ruang untuk hal-hal yang benar-benar membuat hati tenang? Bukan sekadar hiburan cepat untuk mengalihkan stres, tetapi aktivitas yang memberi rasa utuh. Mengobrol tanpa tergesa-gesa, makan dengan sadar tanpa membuka layar, berjalan kaki tanpa memikirkan pekerjaan.

Kebahagiaan sering hadir dalam kualitas perhatian, bukan dalam besarnya pencapaian.

Sahabat Fimela, bekerja habis-habisan sering kali berakar dari niat baik. Ingin membahagiakan keluarga, ingin mandiri secara finansial, ingin membuktikan kemampuan diri. Namun, jangan sampai perjuangan itu justru membuat diri kehilangan kesempatan untuk merasakan hidup yang sedang dijalani.

Ada orang yang kariernya melesat, tetapi hubungannya renggang. Ada yang penghasilannya stabil, tetapi tidurnya tidak nyenyak. Ada yang terlihat sukses dari luar, tetapi sering merasa kosong di dalam. Ini bukan tentang kurang bersyukur. Ini tentang ketidakseimbangan yang perlahan menggerus kebahagiaan.

Keseimbangan bukan berarti bekerja setengah hati. Keseimbangan berarti tahu kapan harus serius dan kapan harus berhenti. Tahu kapan harus berkata “ya” dan kapan berani mengatakan “tidak”. Batasan bukan tanda tidak profesional. Justru itu tanda mengenal kapasitas diri.

Jika selama ini merasa harus selalu tersedia, selalu responsif, selalu sempurna, mungkin sudah saatnya meninjau ulang ekspektasi tersebut. Tidak semua hal harus ditangani sendiri. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua permintaan harus dipenuhi.Menjaga kesehatan mental dan fisik adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa diwakilkan.

Pertanyaan “sudah bahagia hari ini?” tidak perlu dijawab dengan hal besar. Cukup jujur pada diri sendiri. Apakah hari ini ada momen yang membuat tersenyum? Apakah ada rasa syukur yang benar-benar disadari? Apakah tubuh diberi waktu untuk beristirahat dengan layak?Jika jawabannya belum, itu bukan kegagalan. Itu sinyal untuk mulai menata ulang.

Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|