Perempuan dan Perubahan Arah Tren Traveling di Indonesia, Dari Destinasi Menuju Makna

23 hours ago 8

Fimela.com, Jakarta - Traveling selama ini kerap dimaknai sebagai aktivitas berpindah tempat. Pergi sejauh mungkin, mengunjungi lokasi baru, lalu pulang membawa cerita. Namun dalam beberapa tahun terakhir, makna tersebut mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Traveling tidak lagi semata tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman, refleksi diri, dan nilai yang dibawa pulang. Menariknya, perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Salah satu kekuatan utama di balik transformasi ini adalah perempuan.

Secara global, perempuan kini memainkan peran dominan dalam industri perjalanan. Sekitar 80–82 persen keputusan traveling ditentukan oleh perempuan, bahkan dalam situasi di mana mereka bukan pihak yang membayar. Selain itu, lebih dari 60 persen pemesanan perjalanan juga dilakukan oleh perempuan, menjadikan mereka sebagai segmen dengan pertumbuhan tercepat, khususnya dalam kategori luxury dan experiential travel. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi partisipan, tetapi juga pengarah tren.

Di Indonesia, fenomena ini mulai terlihat semakin jelas. Perspektif perempuan dalam traveling cenderung lebih reflektif, personal, dan berorientasi pada makna. Mereka tidak sekadar mencari tempat baru, tetapi pengalaman yang relevan dengan kebutuhan emosional dan gaya hidup. Hal ini mendorong perubahan cara industri merancang perjalanan. Mulai dari sekadar itinerary menjadi pengalaman yang terkurasi.

Redefinisi Traveling

Melalui inisiatif seperti Wanita & Wisata, Golden Rama Tours & Travel menangkap pergeseran ini dengan menghadirkan pendekatan yang lebih personal dalam merancang perjalanan. Program yang dikembangkan mencakup berbagai segmen, mulai dari corporate incentive hingga luxury experiences, dengan basis pemahaman mendalam terhadap perilaku traveler masa kini. Ini mencerminkan bahwa industri mulai beradaptasi dengan kebutuhan yang lebih kompleks dan berlapis.

Perubahan ini juga berdampak pada definisi kemewahan dalam traveling. Jika sebelumnya kemewahan identik dengan fasilitas eksklusif dan harga tinggi, kini maknanya bergeser menjadi pengalaman yang relevan dan bermakna. Perjalanan yang dianggap “mewah” bukan lagi yang paling mahal, melainkan yang mampu menciptakan koneksi emosional, memberikan ruang refleksi, serta menghadirkan perspektif baru.

Tren ini turut diperkuat oleh pertumbuhan segmen premium yang mencapai 31 persen pada 2025, dengan kontribusi perempuan sebesar 64 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan berperan besar dalam mendorong permintaan terhadap perjalanan yang lebih thoughtful dan personal.

Sport Holidays

Selain itu, muncul pula peningkatan minat terhadap perjalanan berbasis aktivitas. Konsep seperti sport holidays dan active travel kini semakin populer, termasuk di Indonesia. Data internal Golden Rama menunjukkan bahwa program Sport Holiday mengalami pertumbuhan 29 persen pada 2024 dan melonjak hingga 320 persen pada 2025. Partisipasi perempuan mencapai 34 persen, dengan tingkat repeat order sebesar 20 persen—indikasi kuat bahwa pengalaman ini memberikan kepuasan dan keterikatan yang tinggi.

Perjalanan kini tidak hanya tentang melihat, tetapi mengalami secara utuh. Mengikuti marathon di kota asing, menjalani program wellness, atau sekadar menjalani aktivitas sehat saat traveling menjadi bagian dari pencapaian personal dan ekspresi diri. Traveling menjadi ruang untuk menjaga keseimbangan hidup, bukan sekadar pelarian dari rutinitas.

Dampak perubahan ini juga terasa di dunia korporasi. Perjalanan, khususnya incentive travel, tidak lagi dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian dari strategi organisasi. Perjalanan digunakan untuk meningkatkan engagement, memperkuat hubungan tim, hingga mendorong produktivitas.

Menurut Kitty Chandra, VP Business Development Golden Rama Tours & Travel, masa depan industri travel akan sangat ditentukan oleh kemampuan memahami manusia secara lebih dalam, emosi, aspirasi, dan makna yang mereka cari.

Traveling yang Lebih Bermakna

“Ke depan, diferensiasi tidak lagi terletak pada destinasi, tetapi pada seberapa dalam kita memahami manusia emosi, aspirasi, dan makna yang mereka cari dalam setiap perjalanan. Traveler hari ini tidak lagi sekadar mencari tempat, tetapi mencari pengalaman yang relevan dengan siapa mereka dan apa yang mereka butuhkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ricky Hilton, GM of Communications & CRM, menekankan bahwa perempuan kini tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga suara yang membentuk bagaimana perjalanan dikomunikasikan dan dirasakan.

Perubahan ini mendorong transformasi besar dalam industri travel: dari menjual destinasi menjadi merancang pengalaman. Dari sekadar pilihan yang banyak menjadi pilihan yang paling tepat dan relevan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, traveling justru menemukan peran barunya sebagai ruang jeda. Sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak, merefleksikan diri, dan menyusun kembali prioritas hidup. Dan di balik perubahan ini, perempuan hadir sebagai penggerak utama yang membawa perspektif baru yang menjadikan perjalanan lebih bermakna, personal, dan berdampak jangka panjang.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti
Read Entire Article
Lifestyle | Fashion|