Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, tren thrifting atau membeli pakaian bekas semakin digandrungi banyak orang. Alasan utamanya adalah harga yang terjangkau serta kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan. Namun, di balik daya tariknya, ada aspek penting yang sering terlewatkan, yaitu bagaimana memastikan keamanan dan kebersihan pakaian bekas tersebut.
Meskipun thrifting menawarkan banyak keuntungan, ada beberapa risiko kesehatan yang perlu diwaspadai. Pakaian bekas bisa saja membawa kuman, bakteri, bahkan serangga dari pemakai sebelumnya atau proses penyimpanannya. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan sangatlah krusial.
Artikel ini akan membahas secara tuntas mengenai berbagai risiko yang mungkin timbul dari baju thrift, serta panduan lengkap tentang cara aman memilih dan membersihkannya. Dengan begitu, Sahabat Fimela bisa tetap bergaya tanpa mengorbankan kesehatan.
Risiko Thrifting Baju Bekas yang Perlu Diwaspadai
Meskipun thrifting menawarkan keuntungan finansial dan lingkungan, ada beberapa bahaya tersembunyi yang perlu Sahabat Fimela ketahui. Pakaian bekas dapat menjadi sarang bagi berbagai agen penyebab penyakit jika tidak ditangani dengan benar. Memahami risiko ini adalah langkah pertama untuk memastikan pengalaman thrifting yang aman.
Baju bekas sangat mungkin mengandung kuman dan bakteri dari pemakai sebelumnya atau proses penyimpanan yang kurang higienis. Seringkali, produk thrift ditimbun di gudang dalam waktu lama, yang menjadi faktor pemicu tumbuhnya jamur dan bakteri lain. Kondisi ini membuat pakaian rentan membawa mikroorganisme berbahaya yang tidak terlihat oleh mata telanjang.
Salah satu bahaya utama adalah risiko penyakit kulit yang bisa menular dari pemilik baju sebelumnya. Penyakit seperti panu dan kurap, yang disebabkan oleh jamur, dapat menempel di pakaian dan menulari pemakai selanjutnya. Selain itu, kudis (skabies) akibat tungau, infeksi bakteri seperti impetigo dan Staphylococcus aureus, molluscum contagiosum, hingga virus herpes simpleks berpotensi menular melalui kontak dengan pakaian yang terkontaminasi.
Tidak hanya itu, baju thrift juga berpotensi terpapar bahan kimia berbahaya. Beberapa pakaian bekas, terutama yang diimpor, mungkin mengandung formaldehida. Bahan kimia ini dapat memicu iritasi kulit, masalah pernapasan, bahkan risiko kanker. Penting juga untuk menghindari pakaian yang terlalu banyak disemprot disinfektan karena dapat menyebabkan dermatitis. Selain itu, serangga seperti kutu busuk dan kutu rambut juga bisa bersembunyi di serat pakaian bekas, siap berpindah ke tubuh pemakai baru.
Panduan Memilih Baju Thrift yang Aman dan Berkualitas
Memilih baju thrift yang aman dan berkualitas memerlukan ketelitian ekstra. Sahabat Fimela tidak hanya mencari gaya atau harga murah, tetapi juga memastikan bahwa pakaian tersebut layak pakai dan tidak menimbulkan risiko kesehatan. Ada beberapa tips penting yang bisa diterapkan saat berburu harta karun di toko thrift.
Langkah pertama adalah memperhatikan kebersihan toko tempat Sahabat Fimela berbelanja. Toko yang bersih dan terawat cenderung lebih mengutamakan kebersihan barang dagangannya. Lingkungan yang rapi dan tidak berdebu bisa menjadi indikator awal bahwa pakaian yang dijual juga disimpan dengan baik. Ini adalah sinyal penting untuk meminimalkan risiko kontaminasi dari luar.
Selanjutnya, periksa kondisi pakaian dengan teliti. Hindari baju yang sudah mengalami staining atau bercak kuning akibat jamur atau bakteri. Noda debu mungkin bisa hilang saat dicuci, tetapi noda menguning atau luntur sangat sulit dihilangkan dan bisa membuat baju tidak layak pakai. Cermati juga warna apakah sudah kusam atau masih tampak bagus, serta periksa jahitan dan kancing untuk memastikan tidak ada kerusakan yang signifikan. Jangan ragu untuk mencium bau pakaian; bau apek atau tidak sedap bisa menandakan pakaian belum dicuci atau disimpan dengan buruk, dan mungkin ada agen infeksi yang menempel.
Ada beberapa jenis barang yang sebaiknya dihindari saat thrifting. Pakaian dalam, handuk, selimut, sprei, dan topi bekas memiliki kemungkinan lebih besar sebagai media penularan penyakit. Barang-barang ini bersentuhan langsung dengan kulit dan cairan tubuh, sehingga risiko penularan kuman dan penyakit lebih tinggi. Terakhir, pilihlah ukuran yang pas di badan. Seringkali, pilihan ukuran di toko thrift terbatas, namun memaksakan ukuran yang tidak sesuai hanya akan membuat pakaian tidak nyaman dipakai dan kurang estetik.
Langkah Mencuci Baju Thrift Agar Higienis Maksimal
Setelah berhasil menemukan baju thrift impian, proses pencucian yang benar adalah kunci utama untuk memastikan pakaian tersebut aman dan nyaman digunakan. Jangan pernah langsung memakai baju thrift tanpa mencucinya terlebih dahulu, karena risiko penularan penyakit sangat besar. Proses pencucian yang higienis akan menghilangkan kuman, bakteri, dan potensi bahan kimia berbahaya.
Segera cuci baju thrift setelah dibeli. Langkah pertama sebelum mencuci adalah memeriksa label perawatan pada pakaian. Label ini memberikan informasi penting tentang cara mencuci, suhu air yang dianjurkan, dan apakah pakaian dapat dikeringkan dengan mesin atau harus dijemur. Jika label hilang atau kurang terbaca, Sahabat Fimela bisa membandingkannya dengan baju lain yang memiliki material serupa. Sebelum mencuci, pisahkan pakaian berdasarkan warna (terang dan gelap) serta jenis bahan (katun, wol, sutra, dll.) untuk mencegah warna luntur dan kerusakan bahan.
Jika terdapat noda pada pakaian, lakukan pre-treatment sebelum mencuci. Sahabat Fimela bisa menggunakan cairan penghilang noda atau bahan dapur seperti soda kue, cuka, hidrogen peroksida, atau lemon untuk membersihkan noda membandel. Setelah itu, rendam baju thrift dengan air panas selama 15-30 menit untuk membunuh kuman dan bakteri. Jika tekstur atau bahan kain tidak memungkinkan direndam air panas, gunakan air hangat dengan durasi yang sedikit lebih lama. Untuk sterilisasi optimal, tambahkan cairan antiseptik atau disinfektan khusus yang aman untuk kain saat perendaman.
Cuci pakaian dengan deterjen yang tepat. Untuk bahan halus seperti sutra dan wol, sebaiknya cuci dengan sabun mandi atau sabun bayi cair yang dicampur sabun tangan antibakteri. Pilih deterjen cair yang efektif melarutkan kotoran dan bau. Mencuci pakaian bekas menggunakan tangan akan lebih efektif untuk memastikan noda, bakteri, dan kuman sudah tidak menempel, serta mencegah kerusakan baju dari mesin cuci. Setelah dibilas bersih, gunakan pewangi dan pelembut pakaian untuk membuat tekstur lebih lembut dan harum. Jemur di bawah sinar matahari langsung, balik pakaian agar bagian dalam terkena sinar matahari untuk sterilisasi maksimal tanpa memudarkan warna. Terakhir, setrika dengan suhu tinggi untuk membunuh sisa kuman. Untuk bahan tertentu seperti mantel atau jas, pertimbangkan untuk dry clean guna mempertahankan material dan struktur baju. Sebelum menggunakan, periksa ulang pakaian untuk memastikan tidak ada noda atau kerusakan yang terlewatkan.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.